Langsung ke konten
Kamis, 16 Juli 2026
Politik & Pemerintahan

Dinsos Jombang Kuatkan Peran Ibu Kader Lewat Sosialisasi Parenting untuk PSKS

Bagikan

JOMBANG, mediarakyatpost – Dinas Sosial Kabupaten Jombang menggelar Sosialisasi Parenting bagi Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS). Kegiatan yang menyasar ibu-ibu rumah tangga sebagai kader di tingkat desa ini berlangsung di Aula Dinsos Kabupaten Jombang, Kamis (4/6/26).

Langkah ini bagian dari upaya Pemkab Jombang memperkuat ketahanan keluarga. Lewat penguatan kapasitas PSKS, Dinsos berharap peran aktif masyarakat dalam pendataan dan pendampingan warga rentan bisa lebih optimal.

Dalam kegiatan tersebut, Dinas Sosial menghadirkan narasumber Wiwik Subandiyah, S.Pd., dari Yayasan Tjatur Guna Bidang Sosial Kabupaten Jombang. Melalui materi yang disampaikan, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya pola pengasuhan yang berkualitas dalam membangun keluarga yang harmonis, tangguh, dan mampu menghadapi berbagai tantangan sosial di era modern.

Kepala Dinsos Jombang Agung Hariadi S.T., M.M. menjelaskan, PSKS mencakup individu, kelompok, hingga organisasi yang memfasilitasi kesejahteraan sosial. Ibu-ibu dipilih sebagai sasaran utama karena posisinya strategis di lini terbawah.

“PSKS wajib paham perannya. Mulai mendaftarkan keluarga ke data sosial, aktif di RT/RW dan pengajian, sampai jadi kader stunting. Kehadiran mereka vital karena pemerintah tidak bisa menjangkau semua persoalan sosial langsung ke rumah warga,” ujar Agung.

Data peserta dihimpun dari pemerintah desa dan organisasi perempuan. Mereka adalah kader posyandu, kader penanggulangan stunting, anggota PKK, serta kelompok wanita tani. Penguatan kapasitas tidak hanya soal parenting, tapi juga ekonomi keluarga.

Dinsos mengintegrasikan materi Program Keluarga Harapan (PKH) komponen P2KP. Melalui program ini, ibu kader diajarkan menyusun prioritas belanja rumah tangga agar pengeluaran tidak melebihi pendapatan.

“PKH P2KP melatih ibu membedakan kebutuhan dan keinginan. Kalau keuangan keluarga sehat, gizi anak terpenuhi dan anak bisa sekolah. Ini fondasi mencegah stunting dan kemiskinan,” jelas Agung.

Agung menyoroti tantangan pengasuhan di era media sosial. Ia menegaskan pendidikan karakter anak tidak bisa diserahkan sepenuhnya ke sekolah.

“Orang tua harus hadir nyata. Batasi gawai saat kumpul keluarga. Simpan HP, tatap mata anak, ajak ngobrol. Kualitas interaksi lebih penting dari durasi. Dari obrolan itu anak akan terbuka, lalu orang tua bisa membimbing kendala yang dihadapi,” tegasnya.

Ia juga meminta ibu kader peka terhadap tanda KDRT dan kenakalan remaja. Deteksi dini di tingkat RT/RW akan mempercepat penanganan oleh desa dan pendamping sosial.

Dinsos menargetkan lahirnya keluarga harmonis dan kader yang aktif Target pelaporan meliputi warga disabilitas, rumah tidak layak huni, lansia terlantar, dan keluarga miskin.

“Sinergi pemerintah, pendamping, dan PSKS harus kuat. Dengan peran aktif ibu-ibu, bantuan sosial bisa tepat sasaran. Ujungnya, kesejahteraan sosial di Jombang merata,” pungkas Agung.(nic)

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *