Langsung ke konten
Jumat, 17 Juli 2026
Pendidikan & Budaya

Ketua PAC PERGUNU Tembelang: Jabatan Adalah Amanah, Bukan Hal Yang Harus Direbutkan

Bagikan

JOMBANG – Ketua PAC PERGUNU Kecamatan Tembelang, Faizuddin FM, mengingatkan kembali makna hakiki dari sebuah jabatan dalam pandangan Islam. Menurutnya, pemberian amanah kepemimpinan yang sejati adalah yang diberikan tanpa diminta, lahir dari kepercayaan masyarakat terhadap kapasitas, integritas, dan kelayakan seseorang.

“Apabila umat atau masyarakat melihat kapasitas, integritas, dan kelayakan seseorang, lalu memintanya untuk mengemban amanah tersebut, itulah makna pemberian jabatan tanpa diminta. Jika seseorang ditunjuk secara sah tanpa melobi atau berambisi, maka ia dijanjikan akan mendapat bimbingan dan pertolongan dari Allah SWT dalam mengambil keputusan serta menegakkan keadilan,” ujar Faizuddin.

Ia menyoroti fenomena yang terjadi saat ini, di mana jabatan—baik di lingkungan pemerintahan maupun organisasi keagamaan—sering kali menjadi sasaran perebutan dan diminta secara sengaja. Fenomena ini, menurutnya, menjadi tanda yang perlu dicermati, terutama jika terjadi di kalangan ulama dan tokoh agama.

“Perebutan jabatan sering kali dipandang sebagai indikasi pudarnya nilai zuhud dan bergesernya orientasi dakwah, dari yang seharusnya berorientasi akhirat menjadi lebih condong pada kepentingan duniawi,” tambahnya.

Dalam pandangan Islam, pergeseran ini menjadi peringatan serius karena berpotensi menghilangkan sifat keteladanan. Ilmu agama dikhawatirkan hanya dijadikan alat untuk meraih keuntungan politik, prestise, maupun kekayaan materi semata.

Sebagai landasan, Faizuddin mengutip sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Abu Daud, dan An-Nasai. Dalam sebuah hadis diceritakan, ketika dua orang sahabat meminta langsung untuk diangkat menjadi pejabat, Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sungguh aku tidak akan mengangkat sebagai pejabat orang yang memintanya dan tidak juga orang yang berambisi terhadap jabatan itu.”

Pandangan ini menegaskan bahwa larangan berambisi berlebihan terhadap kekuasaan merupakan prinsip kehati-hatian. Jabatan bukanlah kehormatan atau hadiah, melainkan amanah dan beban berat yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Faizuddin juga mengingatkan tiga konsekuensi berat bagi siapa saja yang mengejar jabatan semata karena ambisi pribadi:

1. Dilepas pada Kemampuan Sendiri: Allah SWT tidak akan memberikan pertolongan atau taufik, sehingga pemimpin hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri yang terbatas.
2. Menjadi Sumber Penyesalan: Beban moral dan tanggung jawab kepemimpinan yang berat di dunia dan akhirat akan menjadi penyesalan yang mendalam bagi yang memaksakan diri berkuasa.
3. Membuka Pintu Ketidakadilan: Ambisi duniawi berpotensi membutakan hati, sehingga sulit untuk berlaku adil dan berisiko menyalahgunakan wewenang demi kepentingan pribadi atau golongan.

Menutup pernyataannya, ia berharap seluruh elemen masyarakat, tokoh agama, maupun calon pemimpin dapat kembali menanamkan nilai-nilai keikhlasan dan zuhud, agar amanah kepemimpinan tetap terjaga dan berjalan sesuai tuntunan agama.(ant)

Bagikan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *