Kisah Pilu di Balik Penahanan Ijazah: Anak Stres Berat Hingga Kerja Keras Tak Sesuai Keahlian

Jombang, mediarakyatpost – Kasus dugaan penahanan ijazah yang melibatkan Yayasan Pendidikan Budi Utomo (YPBU) Gadingmangu, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, menyisakan cerita kepedihan yang mendalam bagi sejumlah keluarga. Persoalan yang awalnya tampak sekadar masalah administrasi, ternyata telah merembet menjadi penderitaan panjang yang menghancurkan masa depan, kondisi mental, dan ekonomi para lulusan yang telah menunggu dokumen kelulusan mereka bertahun-tahun lamanya.

Kisah memilukan ini terungkap kembali saat gelombang kedua pengaduan disampaikan ke kantor Dewan Pendidikan Kabupaten Jombang, yang beralamat di Jalan R. Soedirman (dahulu Jalan Pattimura), pada Jumat (22/5/2026). Dua orang ibu rumah tangga hadir mewakili tujuh anak yang bernasib sama, menyampaikan keluhan bahwa ijazah putra-putri mereka masih disimpan oleh pihak sekolah maupun yayasan. Dari jumlah tersebut, dua nama yakni ML (lulusan tahun 2021) dan MK (lulusan tahun 2020), menjadi yang paling parah terdampak akibat ketiadaan dokumen penting itu.

Sang ibu ML menceritakan betapa hancurnya harapan anaknya yang dulunya sangat bersemangat menekuni keahlian di jurusan Mekanik Kendaraan Ringan. Dengan bekal ilmu yang dimilikinya, ML bercita-cita bekerja di bengkel atau industri otomotif sesuai keahliannya. Namun, mimpi itu pupus seketika karena ia tidak memegang ijazah sebagai syarat utama melamar pekerjaan. Akhirnya, demi membantu ekonomi keluarga, ML terpaksa mengambil pekerjaan apa saja, salah satunya menjadi penjual bakso.

Perbedaan tajam antara cita-cita dan kenyataan inilah yang perlahan merusak kesehatan jiwanya.

“Dia kepikiran terus sampai akhirnya stres berat dan mengalami depresi. Dia sering bertanya kepada saya, ‘Bu, saya kan lulusan mekanik mobil, kok kerjanya cuma jualan bakso? Kapan ya saya bisa ambil ijazah?’. Pertanyaan itu terus diulangnya setiap hari,” kenang sang ibu dengan nada bergetar menahan sedih.

Kini, kondisi ML dikabarkan sangat memprihatinkan. Ia mengalami penurunan kondisi mental yang drastis, lebih banyak berdiam diri di kamar, kehilangan semangat hidup, hingga kesulitan melakukan aktivitas dasar sehari-hari.

“Anak saya sekarang sakit dan hanya diam di rumah. Sudah tidak sanggup berbuat apa-apa, bahkan untuk ke kamar mandi pun harus didampingi. Dia sudah tidak mau salat dan tidak melakukan kegiatan apa pun. Dulu saya sudah membawanya berobat ke dokter dan Puskesmas di wilayah Perak, tapi kondisinya tak kunjung membaik. Sekarang pengobatannya kami hentikan karena benar-benar tidak ada biaya untuk meneruskannya,” paparnya.

Ada satu pemandangan yang paling menyayat hati hati sang ibu di tengah kondisi putranya yang memburuk. Di tengah keterbatasan akal dan kesedihannya, ML kerap memeluk dan menatap lekat-lekat sebuah piagam penghargaan yang pernah diraihnya saat masih bersekolah. Dalam keterbatasan pemahamannya, ia seolah mengira kertas penghargaan itu adalah ijazah yang selama ini dirindukannya.

“Dia selalu memeluk piagam itu dan menatapinya lama sekali. Mungkin dalam benaknya yang sudah kacau, itu adalah ijazah yang seharusnya dia pegang dan menjadi bukti bahwa dia pernah sekolah,” ujarnya lirih.

Nasib yang serupa namun dengan penderitaan fisik yang berat dialami MK, lulusan tahun 2020. Tanpa dokumen kelulusan, MK tidak memiliki tawaran pekerjaan yang layak apalagi sesuai dengan keahliannya. Ia akhirnya terpaksa bekerja keras menjadi buruh angkut barang di sebuah perusahaan jasa pengiriman barang, sebuah pekerjaan berat yang jauh dari harapan dan impian keluarga.

“Memang tidak ada pilihan lain, mau bagaimana lagi. Akhirnya dia kerja di situ angkat-angkat barang berat setiap hari. Saya sampai tidak tega melihatnya pulang dalam keadaan lelah sekali. Pernah suatu hari dia jatuh saat sedang mengangkat kulkas yang berat, dan dadanya sampai terasa sakit berhari-hari sampai susah bernapas,” cerita ibunya dengan mata berkaca-kaca.

Berulang kali kedua orang tua ini berusaha mendatangi pihak sekolah maupun yayasan untuk meminta kejelasan, bernegosiasi, atau sekadar mencari jalan tengah. Namun, usaha mereka selalu berakhir sia-sia. Keberadaan mereka seolah tidak dianggap dan diabaikan begitu saja.

“Kami datang saja tidak dipedulikan, apalagi sampai diajak bicara untuk mencari solusi. Rasanya kami dan nasib anak-anak kami dianggap tidak ada harganya,” keluhnya.

Menanggapi rangkaian peristiwa yang menyedihkan ini, Dewan Pendidikan Kabupaten Jombang kembali menegaskan komitmennya. Masalah penahanan ijazah di YPBU Gadingmangu akan terus dikawal hingga tuntas, mengingat dampaknya yang sangat besar, nyata, dan telah merenggut masa depan serta kesejahteraan hidup seseorang. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *