Direktur KSKK Kemenag RI Kunjungi MAN 4 Jombang

JOMBANG, Mediarakyatpost.com, –
Dalam rangka kunjungan ke MAN 4 Jombang yang berada di PP. Mamba’ul Ma’arif, Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama RI (Kemenag), Nyayu Khodijah, beserta Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi KSKK, Abdul Basit, pada Senin (22/9). Agenda kegiatan tersebut sekaligus memberi pembinaan kepada guru, pembina asrama, dan siswa Program Keagamaan (PK)

Nyanyu Khodijah menjelaskan tujuan Kunjungannya PERTAMA Memberikan pembinaan dan bimbingan kepada warga madrasah. KEDUA Menginspirasi dan memotivasi siswa dan guru untuk terus belajar dan berkembang. KETIGA Meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan siswa menghadapi tantangan masa depan. KEEMPAT Mendorong penerapan kurikulum merdeka dan memperkuat identitas madrasah.

Implikasi Kunjungan, Menjadi momentum bagi madrasah untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pendidikan, Membangun kesadaran akan pentingnya nilai-nilai keislaman dan akhlak dalam proses pendidikan, serta Meningkatkan sinergi antara madrasah dengan Kementerian Agama RI dalam upaya mencerdaskan bangsa.

Direktur KSKK Kemenag RI, Nyayu Khodijah mengingatkan pentingnya manajemen waktu bagi siswa, “Para siswa harus bisa Mangelola waktu dengan baik. Ingat, kita yang harus mengatur waktu, bukan sebaliknya. Yang sering merusak waktu adalah penggunaan gawai tanpa kontrol. Karena itu, jangan mudah ikut-ikutan dan tergoda oleh hal-hal duniawi,” pesannya.

Nyanyu Khodijah juga mengatakan bahwa kecerdasan yang dimiliki siswa harus sejalan dengan akhlak. “Siswa yang cerdas biasanya dan akhlaknya baik. Di MAN PK, rata-rata IQ siswanya minimal 110. Itu modal yang sangat berharga,” tandas Nyanyu.

Menurutnya, orang dengan IQ tinggi cenderung lebih sukses dalam kehidupan, mudah belajar, serta lebih cepat dalam menyelesaikan masalah.

“Anak-anak MAN PK sudah punya bekal awal yang baik. Inilah mengapa MAN PK menjadi pilihan tepat, karena tidak hanya mengajarkan kurikulum nasional, tetapi juga memperkuat pendidikan keagamaan,” ujarnya.

Menurutnya, kurikulum merdeka sangat sesuai jika diterapkan dalam kondisi pembelajaran seperti saat ini. Kurikulum merdeka mengenal konsep diferensiasi yang dinilai sejalan dengan ajaran di pesantren, yakni sorogan.

“Madrasah merupakan sekolah umum yang berciri khas agama Islam. Dalam madrasah, harus ada nilai ajaran agama Islam yang mewarnai cara berpikir, bertindak warga madrasah, baik guru maupun siswa. Lalu, kekhasan apa yang membedakan sekolah dengan madrasah” ucapnya.

Kekhasan madrasah selanjutnya dijabarkan dalam 5 pokok bahasan, yakni perspektif ibadah berdimensi ukhrawi, hubungan guru-murid diikat dengan mahabbah fillah, pandangan ‘ainir rahmah, Hati sebagai sasaran utama pendidikan, dan akhlak di atas ilmu pengetahuan.

“Pembelajaran di madrasah, apalagi yang di dalam pondok seperti MAN 4 Jombang semuanya harus dipandang dalam perspektif ibadah yang berdimensi ukhrowi.” ucapnya

Ia menjelaskan, apapun yang dilakukan dalam proses pendidikan harus diyakini sebagai perilaku ibadah yang mendapat pahala dan balasan di akhirat.

“Tolong jangan pisahkan antara ngajar dengan ibadah, ibadah e guru yo ngajar.” ungkapnya.

Mengajar adalah aktifitas ibadah seorang guru. Sehingga semua aktifitas yang dilakukan di madrasah maka akan punya dampak dan mendapat balasan di akhirat.

Nyanyu Khodijah menjelaskan bahwa semua urusan dunia hendaknya diniatkan untuk akhirat, “Tugas kita adalah bagaimana menurunkan nilai-nilai ukhrowi dalam dunia pendidikan. Apapun urusan dunianya, niatkan untuk akhirat. Misal kita mau bal-balan. Diniati mengembalikan kebugaran dan ngilangi stres, agar ngajine fresh, ibadahe luwih apik.” terangnya.

“Pendidikan kita, Tugas kita untuk mengembalikan ruh madrasah, cara pandang ukhrowi, yang tidak memisahkan antara dunia dan akhirat.” jelasnya.

Hubungan guru dengan murid dalam perspektif pendidikan Islam terikat dalam hubungan kasih sayang yang sama-sama bertujuan menuju ridho Allah SWT.

“Guru butuh murid untuk mengamalkan ilmunya, murid butuh guru untuk meningkatkan kapasitas kemampuannya. Hubungannya saling menguntungkan. Sama-sama untuk menjadi orang baik dan mencapai ridho Allah. Sehingga memunculkan amal sholih, yakni ta’lim wa ta’allum, proses belajar mengajar.” tambah Nyanyu

Melalui hubungan seperti ini, lanjutnya, antara guru dan murid bisa saling memberi manfaat kelak di akhirat. Guru bisa menolong muridnya di akhirat, sebaliknya murid juga bisa menolong guru di akhirat.

“Jadi Bapak Ibu guru, jika melakukan kegiatan di madrasah, di kelas, itu tidak hanya urusan duniawi semata. Tapi tembus sampai di akhirat dan bisa saling mempengaruhi.” ungkapnya.

Cara pandang guru kepada siswa dengan pandangan kasih sayang. Guru bisa memiliki pandangan kasih sayang jika yang dipandang dari diri siswa itu bukan siswanya, tetapi siapa di balik siswa itu.

“Misal kita menghadapi anak yang bandel. Yang kita pandang bukan kenakalan anak itu, tapi siapa dibalik dia yang menggerakkan kenakalan anak tersebut, yaitu Allah.” ungkapnya.

Ia pun melanjutkan, bisa jadi anak yang dihadapkan kepada guru sengaja dikirim Allah untuk menguji kesabaran dan kompetensi guru, yang bertujuan untuk meningkatkan derajat seorang guru.

“Yang dilihat adalah siapa yang menggerakkan anak itu. Ini yang dimaksud dengan bertauhid di dalam pendidikan. Tauhid adalah, semua hal dipandang adalah Allah SWT.” terangnya.

Menurut Nyanyu, pendidikan adalah urusan hati. Ketika hati anak terganggu dan tertutup dengan gurunya maka akan sulit mendapatkan ilmu yang manfaat. Tertutupnya hati siswa, lanjutnya, bisa dari dua hal. Pertama karena kecewa telah dihukum yang keteraluan, sehingga siswa tidak bisa menerima kehadiran guru. Kedua, hilangnya kepercayaan terhadap gurunya karena murid mengetahui aib gurunya.

“Misalnya, murid tahu gurunya berbuat kejelekan, Maka apapun yang akan diucapkan oleh gurunya, tidak akan masuk dalam hati anak. Hati anak tidak tersentuh. Ketika itulah, susah sekali ilmu yang manfaat bisa masuk tembus dalam hati anak-anak kita. Hati anak harus kita jaga. Kita bangun agar tetap suci. Sehingga hubungan guru dengan murid tetap terjalin baik. Hati adalah sasaran utama dalam pendidikan.” terangnya.

Nyanyu mengutip perkataan Imam Ghozali yang menyarankan agar menempatkan akhlak diatas pengetahuan, “ilmu atau kepintaran, kalau berada pada orang yang akhlaknya buruk, maka ilmunya justru berpotensi merusak. Dan kerusakannya akan lebih dahsyat daripada orang yg biasa2-biasa saja.” Ucapnya

Jika ditarik dalam dunia pendidikan Islam, maka akhlak adalah segalanya. Akhlaq diposisikan lebih utama dari pada ilmu.

“Akhlak inilah yang menjadikan ilmu itu bisa manfaat. Berkah dalam kehidupannya dan isa mengantarkan anak untuk siap dalam menghadapi tantanngan apapun.” Jelasnya.

Nyanyu juga mengajak seluruh guru dan karyawan MAN 4 jombang untuk mensinergikan doa, “Budayakan sinergi doa. Guru matihahi murid dan wali nmurid. Murid matihahi guru dan wali murid. Wali murid matihahi anaknya dan gurunya.” Ajaknya.

Dalam Kunjungan KSKK juga diisi dengan dialog. Guru dan pembina asrama mendapat kesempatan menyampaikan aspirasi terkait pengembangan kurikulum, sementara siswa mengajukan pertanyaan seputar program dan kegiatan MAN PK.

Nyanyu menekankan bahwa lulusan MAN PK memiliki keistimewaan tersendiri. “Saat ini juga ada kerja sama dengan para rektor PTKIN, sehingga lulusan MAN PK akan mendapat karpet merah untuk masuk ke PTKIN. Ke depan, akan saya usulkan agar MAN PK mendapat perlakuan serupa secara resmi,” jelasnya.

Sedangkan, Kasubdit Kurikulum dan Evaluasi KSKK Kemenag RI, Abdul Basit juga menyampaikan harapan besarnya terhadap lulusan MAN PK, “Kami memiliki harapan besar agar anak-anak MAN PK kelak menjadi ulama, ilmuwan, dan akademisi agama, dengan kampus Islam sebagai tujuan studinya, baik di dalam maupun luar negeri,” ujarnya

Abdul Basit menegaskan bahwa semangat lahirnya MAN PK adalah mempersiapkan generasi yang memiliki kemampuan agama secara mendalam, “Bukan berarti tidak boleh memilih jurusan umum. Namun, ruh MAN PK sejak awal memang untuk menyiapkan ulama dan cendekiawan muslim. Anak-anak diharapkan menjadi pemikir besar seperti Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan ulama besar lainnya,” imbuhnya.

Diakhir arahannya, Nyanyu Khodijah berharap agar semua warga sekolah MAN PK tidak memisahkan kepentingan duniawi dan Ukhrowi, karena keduanya wajib berjalan bersama, “Kami berharap dunia pendidikan kita mulai mengarah kepada dunia pendidikan yang tidak lagi memisahkan antara kepentingan duniawi dengan ukhrowi. Bahkan melupakan kepentingan ukhrowi itu sendiri. Mari dengan semangat kurmer ini kita terapkan ruh madrasah dalam mewarnai semua hal.” pungkasnya (CHANDRA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *