Hari Demokrasi Internasional, Gus Faiz Soroti Kondisi Demokrasi di Jombang: “Tidak Baik-Baik Saja”
JOMBANG – Momentum Hari Demokrasi Internasional menjadi perhatian Faizuddin FM atau yang akrab disapa Gus Faiz. Ia menyoroti pentingnya demokrasi yang tidak hanya diwujudkan melalui pemilihan umum, tetapi juga dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam catatan kritisnya bertajuk “Hati-Hati! Demokrasi Kita di Jombang Tidak Baik-Baik Saja”, Gus Faiz menegaskan bahwa demokrasi seharusnya tidak berhenti pada aktivitas masyarakat mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) dan memilih pemimpin.
Menurutnya, demokrasi harus diwujudkan melalui pelayanan publik, keterbukaan pemerintah, serta tersedianya ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan dan memperoleh penyelesaian.
“Demokrasi bukan hanya tentang datang ke TPS, memilih pemimpin, lalu menyerahkan sepenuhnya nasib rakyat kepada mereka yang terpilih,” tulis Gus Faiz dalam catatan kritisnya.
Ia menilai, pemerintah sebagai lembaga eksekutif memiliki kewajiban menghadirkan pelayanan publik dan menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Di sisi lain, DPRD sebagai lembaga legislatif juga memiliki tanggung jawab menjalankan fungsi representasi, pengawasan, serta memperjuangkan kepentingan rakyat.
Namun, Gus Faiz mempertanyakan kondisi ketika masyarakat datang membawa persoalan, tetapi justru menghadapi jalan buntu, pintu pengaduan yang tertutup, birokrasi berbelit, atau saling lempar tanggung jawab.
“Kalau kondisi seperti ini terus terjadi, maka kita patut bertanya: Apakah demokrasi di Jombang benar-benar sedang bekerja untuk rakyat?” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa keberhasilan demokrasi tidak cukup diukur dari terselenggaranya pemilu. Demokrasi juga harus dapat dirasakan melalui suara rakyat yang didengar, kritik yang diterima secara terbuka, serta penghormatan terhadap hak-hak masyarakat.
Gus Faiz mengingatkan agar lembaga eksekutif dan legislatif tidak kehilangan fungsi dalam menjalankan tanggung jawab demokrasi. Menurutnya, masyarakat tidak seharusnya dibiarkan mencari jalan keluar sendiri ketika menghadapi persoalan pelayanan publik.
“Rakyat bukan pengganggu pemerintah ketika menyampaikan kritik. Rakyat bukan beban ketika menyampaikan keluhan. Rakyat adalah pemilik kedaulatan,” ujarnya.
Menutup catatan kritisnya, Gus Faiz mengajak masyarakat untuk terus merawat demokrasi melalui keberanian menyampaikan aspirasi dan melakukan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan.
“Demokrasi harus dijaga dengan keberanian untuk bersuara dan keberanian untuk mengawasi,” pungkasnya.





Tinggalkan Balasan